Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Sudut Pandang dan Kebahasaan Teks Deskripsi

allowfullscreen="" youtube-src-id="Rrq8iY-KSNE" width="320" height="266" src="https://www.youtube.com/embed/Rrq8iY-KSNE"> href="https://youtu.be/Rrq8iY-KSNE?si=GBw_QDc3Wo7v65HK" target="_blank" rel="nofollow"> Materi Pembelajaran dan Tugas

Simfoni Ciptaan-Mu

Di sela batu-batu yang tegak membisu, mengalir sungai sebening kaca, tak lelah menempuh jalan yang berliku, melewati batu besar dan batu kecil dengan sabar yang tiada tara. Gemericik air menjadi dzikir alam, bersahutan dengan nyanyian burung yang berkicau riang dari rimbun pepohonan. Angin pun berbisik lembut, mengajak hati mengagumi kebesaran-Mu, ya Allah. Betapa indah lukisan yang Engkau bentangkan, langit yang cerah, hutan yang hijau, bebatuan yang kokoh memeluk aliran sungai, semuanya bertasbih dalam bahasa yang hanya hati yang bening mampu memahami. Ya Allah, keindahan ini adalah amanah dari-Mu, titipan yang seharusnya dijaga, bukan dirusak oleh tangan-tangan jahil yang mengotori air, menebang pohon, dan melukai bumi yang Engkau ciptakan. Semoga sungai ini tetap jernih mengalir, burung-burung tetap bernyanyi setiap pagi, pepohonan tetap menaungi bumi dengan kesejukan, dan manusia senantiasa sadar bahwa menjaga alam adalah wujud syukur atas segala nikmat dari-Mu. Sebab dalam setiap...

Bayang Gelombang di Usia Delapan Puluh Satu

Di bawah pelepah kelapa yang melambai pelan kutatap gulungan ombak berlari saling mengejar menghempas pasir pantai dengan pasrah yang tenang. Sejauh mata memandang, bercak-bercak perahu nelayan mengapung sabar, mengadu nasib pada luasnya lautan. Dibelai angin pesisir yang lembut menenangkan, sejenak jiwa ini singgah dalam damai yang tak terperi. Namun kedamaian ini tak mampu menutup mata, sebab angin juga berbisik tentang nestapa di daratan. Negeri ini sebentar lagi genap berusia delapan puluh satu, sebuah angka tua yang harusnya matang dan sejahtera. Tapi mengapa luka-luka lama masih saja menganga? Uang rakyat terus digerogoti jemari kotor tanpa malu, sementara di sudut-sudut kampung, pekik rakyat kian liru. Harga-harga merambat naik bagai tebing yang makin curam, memaksa nafas-nafas kecil tersengal menahan lapar. Pekik merdeka yang gaungnya memenuhi angkasa kini bersanding pusing dengan rintihan dapur yang padam. Bagaimana bisa kita merayakan usia yang makin senja, jika keadilan masi...

Jejak Seuntai Senja

Lebih setengah abad langkah menapak bumi, Menyusur jalan tawa dan sunyi. Bukan indahnya angka yang dihitung hari, Tetapi apa yang telah diberi pada hayat ini. ​Pelajaran terukir di tiap lekuk waktu, Tentang juang yang kerap memeras kalbu. Tak pernah mudah menembus kelam malam, Namun di sana jiwa belajar lebih dalam. ​Hidup bukan sekadar tinggal dan bertahan, Melainkan merajut makna di tiap persimpangan. Menyemai kebaikan, merawat amal yang tulus, Sebelum kelak waktu dunia usai terhapus. ​Sebab garis akhir hanyalah gerbang berpulang, Menuju hening yang abadi dan terang. Maka biar sisa hari menjadi bekal yang pasti, Menuntun jiwa pulang dengan tenang di hati.