Bayang Gelombang di Usia Delapan Puluh Satu
Di bawah pelepah kelapa yang melambai pelan
kutatap gulungan ombak berlari saling mengejar
menghempas pasir pantai dengan pasrah yang tenang.
Sejauh mata memandang, bercak-bercak perahu nelayan
mengapung sabar, mengadu nasib pada luasnya lautan.
Dibelai angin pesisir yang lembut menenangkan,
sejenak jiwa ini singgah dalam damai yang tak terperi.
Namun kedamaian ini tak mampu menutup mata,
sebab angin juga berbisik tentang nestapa di daratan.
Negeri ini sebentar lagi genap berusia delapan puluh satu,
sebuah angka tua yang harusnya matang dan sejahtera.
Tapi mengapa luka-luka lama masih saja menganga?
Uang rakyat terus digerogoti jemari kotor tanpa malu,
sementara di sudut-sudut kampung, pekik rakyat kian liru.
Harga-harga merambat naik bagai tebing yang makin curam,
memaksa nafas-nafas kecil tersengal menahan lapar.
Pekik merdeka yang gaungnya memenuhi angkasa
kini bersanding pusing dengan rintihan dapur yang padam.
Bagaimana bisa kita merayakan usia yang makin senja,
jika keadilan masih mahal dan kesederhanaan kian sukar?
Ombak kembali menghempas batu karang dengan keras,
seolah mengingatkan bahwa kita tak boleh menyerah.
Semoga di balik riak gelombang dan angin yang berhembus,
kesadaran bangsa ini terbangun dari tidur yang lelap—
agar merdeka bukan sekadar deretan angka dan pesta,
melainkan perut yang kenyang dan nurani yang kembali bernyawa.
Bintang Galesong, 8 Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar